Jangan Langsung Percaya Hasil MRI
Bisa membuat keputusan keliru tanpa pemeriksaan fisik yang teliti
Ditangani langsung oleh dr. Aditya Wahyudi, dokter ahli muskuloskeletal yang melakukan evaluasi USG muskuloskeletal dan tindakan proloterapi.
Penulis: dr. Aditya Wahyudi, Sp.KFR, FIPM(USG), AIFO-K
- Dokter spesialis kedokteran fisik & rehabilitasi, fellow intervensi nyeri dengan panduan USG
- Praktek khusus nyeri otot-sendi, saraf terjepit & cedera olahraga tanpa operasi
- Melakukan injeksi regeneratif proloterapi sejak 2012
- Pemeriksaan teliti, analitik & rasional didukung diagnostik visual USG Muskuloskeletal
- Pernah menjadi dokter timnas PSSI era pelatih Alfred Riedl
- Sertifikasi dokter ahli ilmu faal olahraga
Artikel Ini Ditujukan Untuk Siapa?
Artikel ini ditujukan bagi Anda yang:
Mengalami nyeri otot sendi, saraf terjepit & cedera olahraga menetap atau berulang
Sudah mencoba obat, fisioterapi, atau injeksi lain tanpa hasil optimal
Divonis harus operasi hanya dengan melihat hasil MRI tanpa disertai pemeriksaan fisik teliti & akurat sebelumnya
Ingin memahami diagnosis dengan jelas dan opsi pengobatan medis tanpa operasi secara objektif & rasional.
Apakah Pemeriksaan MRI?
Pemeriksaan MRI (Magnetic Resonance Imaging) adalah metode pencitraan medis non-invasif yang menggunakan medan magnet kuat dan gelombang radio untuk menghasilkan gambaran detail jaringan lunak tubuh, seperti otot, ligamen, tendon, saraf, diskus, dan organ dalam, tanpa menggunakan radiasi ionisasi (seperti roentgen/x-ray).
MRI dan Permasalahan Diagnosanya
- Enggan diwawancara dan diperiksa fisik lagi,
- Menyatakan diagnosis dirinya sendiri berdasarkan hasil MRI
- Hanya ingin langsung tindakan medis berdasarkan diagnosis hasil MRI.
- Menimbulkan kecemasan berlebih karena mengira ada penyakit berat atau harus operasi
- Keputusan tindakan medis yang tidak perlu, seperti harus operasi padahal tidak perlu.
- Jika hasil pemeriksaan fisik dan MRI sesuai, maka hasil MRI akan dipertimbangkan untuk menentukan diagnosa.
- Jika tidak sesuai, kemungkinan kelainan di MRI tidak menyebabkan apa-apa, mungkin tanda penuaan saja.
Apakah Pemeriksaan MRI Diperlukan?
Tentunya sangat diperlukan. Terutama untuk melihat secara detail struktur sendi atau tulang belakang yang cukup dalam dan tidak tampak dengan USG atau rontgen.
Tetapi hanya pada pasien yang benar-benar membutuhkan saja. Tidak pada sebagian besar pasien dan mengharapkan tebak-tebak berhadiah (menemukan suatu kelainan pada MRI tanpa memeriksa dengan teliti terlebih dulu) karena biaya pemeriksaan MRI cukup mahal (jutaan rupiah).
Apa Kelebihan dan Kekurangan MRI dibandingkan USG?
Kelebihan MRI dibandingkan USG Muskuloskeletal
- Visualisasi struktur lebih dalam daripada USG
MRI unggul untuk menilai struktur yang berada sangat dalam atau tertutup tulang, seperti diskus intervertebralis, medula spinalis, kanal spinal, sumsum tulang, dan kelainan dalam tulang yang tidak dapat dijangkau oleh USG. -
Hasil MRI tidak tergantung operator
MRI menghasilkan gambar yang sangat baik dan relatif tidak tergantung kompetensi operator yang melakukan. Sedangkan hasil pemeriksaan USG tergantung apakah yang melakukan jago atau tidak. -
Standar pemeriksaan medis
MRI menjadi gold standard (pemeriksaan standar terbaik) untuk tumor, infeksi tulang belakang, stress fracture tertentu, myelopathy, atau kelainan dalam otak atau tulang belakang yang tidak bisa dinilai dengan USG.
Kekurangan MRI dibandingkan USG Muskuloskeletal
- Tidak bisa periksa sambil digerakkan sendinya
Pada kondisi kerusakan ligamen, meniscus atau labrum sendi, seringkali pemeriksaan harus sambil digerakkan sendinya. Bisa dilakukan dengan USG tetapi tidak dengan MRI. -
Risiko overdiagnosis dan akhirnya overtreatment
Seperti diceritakan di atas, hasil MRI sangat sering menunjukkan adanya kerusakan. Padahal bukan kerusakan itu penyebab nyeri yang terjadi, seringkali hanya tanda penuaan saja. -
Tidak bisa digunakan sebagai panduan tindakan
USG muskuloskeletal bisa digunakan untuk visualisasi jarum, jaringan target, dan struktur sekitar secara langsung, saat melakukan injeksi atau tindakan intervensi lain. MRI tidak bisa. -
Biaya lebih tinggi dan waktu pemeriksaan lebih lama
MRI relatif lebih mahal, membutuhkan waktu lebih lama, dan tidak selalu nyaman bagi pasien (klaustrofobia, posisi lama, keterbatasan pada implan logam tertentu).
Pilih MRI atau USG?
MRI dan USG muskuloskeletal bukan kompetitor, melainkan komplementer (saling melengkapi).
- MRI unggul untuk pemeriksaan struktur lebih dalam secara detail yang tidak bisa oleh USG atau rontgen biasa.
- USG muskuloskeletal unggul untuk korelasi langsung dengan nyeri pasien, pemeriksaan sambil menggerakkan sendi, serta sebagai alat diagnosis sekaligus panduan tindakan presisi. Serta biaya USG lebih murah dan bisa dilakukan dengan cepat.
Kapan Harus ke Dokter Aditya?
Temui Dokter Aditya jika Anda:
-
Mengalami nyeri otot sendi, saraf terjepit & cedera olahraga menetap atau berulang
-
Sudah mencoba obat, fisioterapi, atau injeksi lain tanpa hasil optimal
-
Divonis harus operasi hanya dengan melihat hasil MRI tanpa disertai pemeriksaan fisik teliti & akurat sebelumnya
-
Ingin memahami diagnosis dengan jelas dan opsi pengobatan medis tanpa operasi secara objektif & rasional.
Siapa Dokter yang Menangani Anda?
Dokter spesialis Kedokteran Fisik & Rehabilitasi, fellow intervensi nyeri dengan panduan USG
- Konsultasi berkualitas & pemeriksaan fisik teliti
- USG muskuloskeletal jika diperlukan
- Diagnosis spesifik dengan analisa mendalam
- Penjelasan diagnosis & penyebab dengan bahasa yang mudah dipahami
- Mencari akar masalah penyebab nyeri tidak kunjung baik
- Diskusi opsi terapi yang jujur dan rasional
- Berpengalaman melakukan tindakan proloterapi sejak 2012
Konsultasi Nyeri Otot-Sendi, Saraf Terjepit & Cedera Olahraga dengan Dokter Aditya
dr. Aditya Wahyudi, Sp.KFR, FIPM(USG), AIFO-K
Klinik Utama Halmahera Medika - Bandung
Selasa & Kamis 15.00–18.00 | Sabtu 13.00–16.00
Buat Jadwal Konsultasi ----- WA 0817-6040-808 Klik Disini
Catatan Penting
- Dokter Aditya tidak melayani konsultasi online atau hanya berdasarkan hasil MRI
- Diagnosis akurat memerlukan konsultasi berkualitas & pemeriksaan fisik langsung
- Hasil MRI saja tidak selalu menentukan diagnosa akurat. Berisiko overdiagnosis & overtreatment jika tanpa pemeriksaan fisik teliti